Trend Kecantikan
1. Microdosing
Meskipun faktor lingkungan pasti berperan, kenyataannya gen kita sangat menentukan bagaimana kita menua, serta kecenderungan kita terhadap pigmentasi dan sensitivitas. Itulah mengapa semakin banyak merek kecantikan yang memanfaatkan skincare berbasis DNA, produk yang dipesan lebih dahulu berdasarkan susunan genetik kita. Skincare berbasis DNA biasanya meminta kita untuk mengirimkan sampel DNA dan tes online untuk mengumpulkan informasi tentang susunan genetik kita, menganalisis variasi dalam DNA kita, dan menerjemahkan data itu ke dalam rangkaian skincare yang disesuaikan.
8. Perawatan dengan teknologi robotik
Semakin berkembangnya teknologi, tren kecantikan di masa depan pun akan lebih banyak memanfaatkan teknologi seperti robot untuk melakukan perawatan. Misalnya Nimble, perangkat yang menggunakan teknologi AI, kamera mikro, pemrosesan gambar 3D, dan algoritme teknologi untuk mengecat kuku kita. Perangkat ini juga bekerja dengan memindai setiap kuku individu untuk mengidentifikasi di mana kuku mulai dan berakhir. Perangkat kemudian secara mandiri mengecat kuku menggunakan jumlah cat yang tepat untuk manikur sempurna dalam 10 menit. Bahkan, alat ini mengintegrasikan sistem aliran udara hangat untuk mempercepat waktu pengeringan kuku kita.
Teknologi AI lain adalah Luum atau robot pertama untuk ekstensi bulu mata. Robot Luum menghilangkan pekerjaan kasar yang membosankan dari perawatan bulu mata, yang digunakan manusia dan memberikan perawatan mikro-presisi yang dapat diselesaikan dalam waktu lebih singkat. Para ahli pun memperkirakan gelombang AI ini akan membuat perawatan kecantikan lebih cepat, lebih murah, dan lebih populer dari sebelumnya.
9. Teknologi mengaplikasikan skincare
Meskipun kita rutin menggunakan skincare, namun pernahkah kita memerhatikan seberapa banyak pelembab dan serum yang terserap ke dalam kulit kita? Ya, kurang lebih hanya 10 persen dari produk topikal yang benar-benar menyerap di bawah permukaan kulit. Tetapi, sekarang kita semua semakin sadar akan hal ini. Bahkan, rol perawatan kulit yang membantu penetrasi skincare menjadi lebih populer dari sebelumnya. Selain itu, baru-baru ini juga ada Droplette, teknologi skincare yang dikembangkan MIT dan didanai NASA untuk menggabungkan fisika fluida dengan kecantikan. Teknologi ini bekerja dengan memecah bahan aktif skincare menjadi kabut mikro dan kemudian menembakkan kabut ini ke kulit dengan kecepatan tinggi. Artinya, produk skincare akan lebih mudah diserap dibandingkan hanya mengaplikasikannya secara manual saja.
10. Skincare yang bersih dan transparan
Survei menunjukkan bahwa merek skincare yang menggembar-gemborkan transparansi bahan akan semakin populer. Di samping itu, klaim bahwa skincare mudah terurai secara hayati dan berkelanjutan juga bukan lagi bonus, tetapi sudah menjadi persyaratan yang mutlak. Konsumen ingin lebih tahu tentang apa yang ada dalam produk mereka dan memang seharusnya begitu. Hal ini pun menyebabkan banyak perusahaan skincare mengarahkan produknya agar diformulasikan dengan bahan-bahan yang lebih berkelanjutan, baik melalui pengemasan atau kandungan isinya untuk mengurangi jejak karbon.
11. Perawatan ilmiah untuk rambut rontok
Skin-ification dari perawatan rambut secara resmi menjadi arus utama. Artinya, ada lebih banyak tumpang tindih antara perawatan rambut dan perawatan kulit, terutama dengan fokus baru pada kulit kepala. Dengan semua masalah kulit kepala yang muncul selama pandemi, terutama kerontokan rambut, perawatan seperti plasma kaya trombosit (suntikan yang memperbaiki kerontokan rambut) pun mengalami peningkatan. Bahkan, perawatan rambut ilmiah ini juga memanfaatkan suplemen untuk membantu kesehatan rambut dan scalp-tox (botox pada kulit kepala) untuk kulit kepala yang berkeringat.
12. Parfum kesehatan



.jpg)







Komentar